AKADEMI FIQH SIRAH

"Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain."(Hadis Riwayat Muslim )

Saturday, October 31, 2009

Rasulullah Melayani Tetamu


Sentuhan perasaan dan gejolak emosional adalah sesuatu yang selalu hadir dan dibutuhkan dalam kehidupan seorang insan, baik di tengah masyarakat, keluarga maupun di dalam rumahnya. Bingkisan hadiah adalah salah satu sarana untuk merekatkan hati dan meluluhkan dendam serta amarah.

'Aisyah Radhiallaahu anhu menuturkan: "Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa menerima bingkisan hadiah dan membalas bingkisan itu." (HR. Bukhari)

Pemberian hadiah dan ucapan terima kasih sebagai ungkapan rasa syukur ini hanya muncul dari jiwa yang mulia dan hati yang tulus. Akhlak yang mulia merupakan akhlak para nabi dan sunnah para rasul. Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam adalah teladan yang terdepan dan panutan yang luhur dalam masalah tersebut. Bukankah baginda telah menegaskan:

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, hendaklah ia memuliakan tamu. Hak tamu ialah sehari semalam. Kewajiban melayani tamu adalah tiga hari, lebih dari itu merupakan sedekah. Seorang tamu tidaklah boleh berlama-lama sehingga memberatkan tuan rumah." (HR. Al-Bukhari)

Demi Allah, tidak pernah disaksikan sebelumnya oleh siapapun juga, baik di gunung maupun di lembah, baik penduduk Hijaz maupun penduduk semenanjung Arab, akhlak dan budi pekerti seagung dan semulia Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Bahkan oleh penduduk Timur dan Barat sekalipun. Perhatikanlah baik-baik dan lihatlah perilaku Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .

Dari Sahal bin Sa'ad Radhiallaahu anhu ia berkata: "Seorang wanita datang menemui Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dengan membawa kain bersulam (berhias). Ia berkata: "Aku menenun dan menyulamnya sendiri dengan tanganku supaya engkau mengenakannya."

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pun mengambilnya, tam-paknya baginda sangat memerlukan. Kemudian baginda keluar menemui kami dengan mengenakan kain itu sebagai sarung. Ada yang berkata: "Alangkah indahnya kain itu, hadiahkanlah kain itu kepadaku!" "Boleh!" jawab baginda. Lalu Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam duduk di dalam majlis kemudian kembali. Baginda segera melipat kain itu dan mengirimkannya kepada orang tersebut.

Orang-orang berkata: "Alangkah bagusnya engkau ini, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam lebih membutuhkan kain itu tetapi engkau malah memintanya, padahal engkau tahu bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tidak pernah menolak permintaan!" orang itu menjawab: "Demi Allah, sesungguhnya aku meminta kain itu kepada beliau bukan untuk kukenakan, akan tetapi aku ingin menjadikannya sebagai kain kafan." Sahal berkata: "Dengan kain itulah ia dikafani." (HR. Bukhari)

Tidaklah menghairankan jika demikian luhur budi pekerti hamba pilihan Allah Ta'ala ini. Karena baginda dibimbing langsung dibawah pengawasan-Nya dan menjadikannya sebagai teladan. Baginda telah memberikan contoh yang agung dalam hal kemurahan hati dan kedermawanan.

Hakim bin Hizam Radhiallaahu anhu menuturkan: "Aku pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, beliau lantas memberikannya. Kemudian aku meminta lagi, beliau pun memberikanya. Kemudian aku meminta lagi, beliau pun memberikannya seraya berkata: "Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini manis dan indah. Barang siapa yang mengambilnya dengan kemurahan hati, ia akan mendapat keberkatan padanya. Barangsiapa yang mengambilnya dengan ketamakan, ia tidak akan mendapat keberkatan padanya. Bagaikan orang yang makan tapi tidak pernah kenyang. Dan tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah." (Muttafaq 'alaih)

Benarlah ucapan seorang penyair:
Baginda adalah seorang yang paling sempurna ketaatannya
disamping memiliki semangat yang begitu tinggi.
Demikian agung dan luhur kedudukan baginda
hingga sulit dibandingkan dengan siapapun.
Bila cahaya baginda menyinari umat manusia
niscaya akan mengelokkan dan menaungi mereka.
Ternyata cahaya itu adalah Al-Qur'an dan Sunnah baginda.
Kutemukan para pemburu tercengang keheranan.
Kutemukan semua kebaikan terkumpul pada seorang insan (Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam )

Jabir Radhiallaahu anhu berkata: "Tidak pernah sama sekali Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengatakan "tidak" (menolak) setiap kali diminta." (HR. Al-Bukhari)

Kedermawanan dan kemurahan hati baginda sulit untuk dicari tandingannya. Ditambah lagi dengan kebaikan hati, keelokan dalam bergaul dan kesetiaan baginda yang tiada taranya. Di antara kebiasaan baginda adalah menebar senyum kepada orang yang berada di dalam majlis. Sehingga orang-orang akan menyangka bahwa orang itulah yang paling baginda kasihi.

Jabir bin Abdullah Radhiallaahu anhu mengungkapkan: "Sejak aku masuk Islam, setiap kali Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berpapasan denganku atau melihatku, baginda pasti tersenyum." (HR. Al-Bukhari)

Cukuplah pengakuan dari orang yang melihat langsung menjadi pelajaran bagi kita.

Abdullah bin Al-Harits Radhiallaahu anhu menuturkan: "Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam." (HR. At-Tirmidzi)

Mengapa harus hairan wahai saudaraku tercinta, bagindalah yang menegaskan:
"Senyumanmu di hadapan saudaramu (seiman) adalah sedekah." (HR. At-Tirmidzi)

Anas bin Malik Radhiallaahu anhu yang pernah menjadi pelayan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah mengungkapkan kepada kita beberapa sifat yang agung pada diri beliau. Yang sulit ditemukan pada diri seseorang, bahkan pada diri orang banyak. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah seorang yang sangat lembut, baginda pasti memperhatikan setiap orang yang bertanya kepadanya, baginda tidak akan berpaling sehingga sipenanyalah yang berpaling. Baginda pasti menyambut setiap orang yang mengulurkan tangannya kepada baginda, baginda tidak akan melepas jabatan tangannya sehingga orang itulah yang melepaskan." (HR. Abu Nu'aim dalam kitab Dalaail)

Selain sangat memuliakan tamu dan berlaku lembut kepada mereka, baginda juga sangat penyantun terhadap umatnya. Oleh sebab itu, baginda tidak rela melihat kemungkaran bahkan beliau pasti segera membasminya.

Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu menuturkan bahwa suatu ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melihat cincin emas di tangan seorang lelaki. Baginda segera mencabut cincin itu lalu membuangnya seraya berkata: "Apakah salah seorang di antara kamu suka memakai bara api dari Neraka di tangannya?" (HR. Muslim)

Sumber: Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim

ORANG GAJI(pelayan) Rasulullah SAW

Seorang pelayan yang miskin papa lagi lemah, namun oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ditempatkan pada kedudukan yang layak. Beaginda mengukurnya dari sisi agama dan ketakwaannya, bukan dari sisi status sosial dan keduduk-annya yang lemah. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah memberikan pengarahan dalam memperlakukan pelayan dan pekerja, baginda bersabda:

"Mereka (para pelayan dan pekerja) adalah saudara kamu (seiman). Allah Ta'ala menempatkan mereka di bawah kekuasaan kamu. Berilah mereka makanan yang biasa kamu makan, berikanlah mereka pakaian yang biasa kamu pakai. Janganlah memberatkan mereka di luar batas kemampuan. Jika kamu memberikan sebuah tugas, bantulah mereka dalam melaksanakannya." (HR. Muslim)

Semaklah penuturan seorang pelayan tentang majikannya. Sebuah penuturan yang sangat mengagumkan dan pengakuan yang mengesankan serta pujian nan agung. Pernahkah Anda melihat seorang pelayan memuji majikannya sebagaimana pujian yang diberikan pelayan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam kepadanya!?

Anas bin Malik Radhiallaahu anhu mengungkapkan: "Aku pernah menjadi pelayan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam selama sepuluh tahun. Tidak pernah sama sekali baginda mengucapkan "hus" kepadaku. Baginda tidak pernah membentakku terhadap sesuatu yang kukerjakan (dengan ucapan): "Mengapa engkau kerjakan begini!" Dan tidak pula terhadap sesuatu yang tidak kukerjakan (dengan ucapan): "Mengapa tidak engkau kerjakan!" (HR. Muslim)

Bukan hitungan hari atau bulan, tetapi genap sepuluh tahun! Jangka waktu yang sangat panjang. Yang penuh dengan suka dan lara, tangis dan tawa. Penuh dengan emosi jiwa dan pasang surut kehidupan. Ayah ibuku menjadi tebusannya, meskipun demikian beliau Shalallaahu alaihi wasalam tidak pernah membentak atau memerintahnya. Justeru sebaliknya, baginda memberikan balasan yang setimpal, membuat bahagia perasaan pelayannya, menutupi kebutuhan mereka beserta keluarga serta mendoakan mereka.

Anas Radhiallaahu anhu mengungkapkan: "Ibuku pernah berkata: "Wahai Rasulullah, anak ini akan menjadi pelayanmu, doakanlah ia." Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam kemudian berdoa:
"Ya Allah, anugrahkanlah kepadanya harta dan keturunan yang banyak dan berkahilah rizki yang Engkau curahkan kepadanya.
" (HR. Al-Bukhari)

Baginda Shalallaahu alaihi wasalam adalah seorang pemberani. Hanya saja keberanian itu cuma beliau pergunakan untuk membela kebenaran semata. Beliau tidak pernah mengebiri hak kaum lemah yang berada di bawah tanggung jawab beliau, baik itu sang istri maupun si pelayan.

'Aisyah Radhiallaahu anha menuturkan:
"
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tidak pernah sama sekali memukul seorangpun kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah Ta'ala. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita." (HR. Muslim).

Itulah 'Aisyah Radhiallaahu anha, yang telah berulang kali mengungkapkan keluhuran budi sebaik-baik hamba yang terpilih. Telah banyak sekali riwayat yang bercerita tentang keagungan pribadi dan keelokan pergaulan beliau. Sampai-sampai kaum kafir Quraisy juga mengakuinya.

'Aisyah Radhiallaahu anha kembali mengungkapkan: "Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam membalas suatu aniaya yang ditimpakan orang atas dirinya. Selama orang itu tidak melanggar kehormatan Allah Ta'ala. Namun, bila sedikit saja kehormatan Allah Ta'ala dilanggar orang, maka baginda adalah orang yang paling marah karenanya. Dan sekiranya baginda diminta untuk memilih di antara dua perkara, pastilah baginda memilih yang paling ringan, selama perkara itu tidak menyangkut dosa." (HR. Al-Bukhari)

Baginda Shalallaahu alaihi wasalam menyeru umatnya untuk berlaku lemah lembut dan sabar. Baginda Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
"
Sesungguhnya Allah Ta'ala itu Maha Lembut, dan menyukai kelembutan dalam segala perkara." (Muttafaq 'alaih)

Sumber: Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim


Bhg akhir 4: Dato’ Fadzil Noor(1937 – 2002)


Dilulus Oleh:jhadid06| Tuesday, October 10 @ 03:10:46 MYT


Oleh: Saari Sungib | abuurwah@gmail.com|

Perhimpunan 100,000 Rakyat

Perhimpunan 100,000 Rakyat yang diadakan pada 5 November 2000 adalah satu perhimpunan aman anjuran aktivis yang menyokong BA daripada parti- parti politik, NGO dan Reformasi.

PAS di bawah kepimpinan Ustaz Fadzil Noor telah memberi sokongan yang padu untuk menjayakan perhimpunan ini.

Ini berlaku apabila Ustaz Fadzil Noor membenarkan setiausaha politiknya, Dr. Mohd Hatta Ramli, untuk terlibat sebagai salah seorang ahli jawatankuasa penganjur.
Ustaz Fadzil Noor juga telah mengarahkan Setiausaha Agung PAS, Ustaz Nasharuddin Md Isa untuk mengeluarkan surat kepada setiap PAS Negeri untuk mengerahkan ahli-ahli PAS turun untuk menjayakan perhimpunan aman tersebut.

Sokongan yang diberikan serta komitmen Ustaz Fadzil Noor sendiri untuk hadir ke perhimpunan tersebut telah menyebabkan pemimpin-pemimpin utama parti-parti politik bersetuju untuk turut serta.

Wan Azizah Wan Ismail, Presiden Parti KeADILan Nasional, Lim Kit Siang, Pengerusi DAP dan Dr. Syed Husin Ali, Presiden PRM turun bersama-sama rakyat menyertai perhimpunan aman tersebut.

Apabila laluan ke tempat perhimpunan disekat oleh polis, keempat-empat pemimpin utama parti-parti politik Barisan Alternatif itu turun daripada kenderaan masing-masing dan berjalan bersama-sama puluhan ribu rakyat di atas Lebuhraya KESAS.
Solidariti keempat-empat pemimpin BA berjalan di barisan hadapan perarakan itu, benar-benar menyuntik semangat kepada rakyat tentang betapa mantapnya gandingan dan kerjasama BA.

Pada hari itu, Ustaz Fadzil Noor dan para pemimpin BA menunjukkan contoh semangat yang kental apabila mereka berjalan sejauh hampir lima kilometer di atas Lebuhraya yang sudah tiada kenderaan boleh melaluinya lagi itu.
Apabila tiba di tempat yang sudah tidak boleh lagi dilalui kerana sekatan polis, semua para pemimpin diundang untuk membuat ucapan.

Pada hari itu, Ustaz Fadzil Noor berucap di atas tembok pemisah lebuhraya dengan dikelilingi oleh kira-kira 100,000 rakyat.

Dalam ucapanya yang penuh semangat itu, Ustaz Fadzil Noor menyeru agar semua rakyat bersatu untuk berjuang mengembalikan hak mereka yang sudah dicabul dan dirampas oleh Dr. Mahathir dan kerajaan UMNO-BN.

Apabila lebih seratus orang ditahan oleh polis kerana menyertai perhimpunan aman tersebut, Ustaz Fadzil Noor telah mengarahkan Dr. Mohd Hatta Ramli untuk mengendalikan urusan ikat jamin dan pembebasan mereka daripada lokap.

Sokongan terhadap perhimpunan aman di Lebuhraya KESAS ini diteruskan oleh Ustaz Fadzil Noor dengan merintis penubuhan Gerakan Mansuhkan ISA (GMI).

GMI ditubuhkan apabila pengerusi dan ahli-ahli serta penggerak utama Jawatankuasa Perhimpunan 100,000 Rakyat ditahan di bawah ISA pada 10 April 2001.

Demonstrasi aman seperti ini adalah suatu yang tidak asing bagi Ustaz Fadzil Noor. Ini kerana masa mudanya lagi, iaitu pada tahun 1974, beliau telah pun terlibat dalam demonstrasi membela rakyat miskin di Baling.

Bahkan, pada akhir-akhir hayatnya pun beliau masih menggagahkan diri untuk hadir bersama rakyat dalam perhimpunan-perhimpunan aman.

Sebulan sebelum beliau meninggal dunia, Ustaz Fadzil Noor telah hadir dalam perhimpunan aman di depan Kedutaan Amerika Syarikat di Kuala Lumpur membantah tindakan Amerika mahu menyerang Iraq.

Dalam perhimpunan aman tersebut, pihak polis FRU telah mengganas menyerang orang ramai dengan tembakan gas pemedih mata dan semburan air berkimia.

Ustaz Fadzil Noor terkena gas pemedih mata dengan teruk sekali. Sejak itu kesihatannya sangat terganggu.

Menurut setiausaha politik dan doktor peribadinya, Dr. Mohd Hatta Ramli, sejak itu kesihatannya semakin merosot hinggalah beliau memerlukan pembedahan dan seterusnya menghembuskan nafas terakhir.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Pencapaian Sebagai Ahli Politik Islam dan Sumbangan kepada Gerakan Islam

Pembabitan awal Ustaz Fadzil Noor dalam politik pilihanraya bermula pada tahun 1978. Beliau bertanding dalam pilihanraya untuk merebut kerusi Parlimen Kuala Kedah dan DUN Alor Merah.

Pada tahun 1980, dalam pilihanraya kecil DUN Bukit Raya, sekali lagi beliau menjadi calon PAS untuk merebut kerusi tersebut. Beliau gagal dalam kedua-dua percubaan ini.
Hanya dalam pilihanraya tahun 1982, Ustaz Fadzil Noor memenangi kerusi DUN Bukit Raya dan seterusnya mempertahankan kerusi tersebut selama empat penggal berturut-turut.

Pada pilihanraya tahun 1999, Ustaz Fadzil Noor menang kerusi Parlimen Pendang dan juga kerusi DUN Anak Bukit.

Di bawah kepimpinan Ustaz Fadzil Noor PAS mengalami kejayaan paling besar sepanjang sejarah penglibatan dalam pilihanraya.

Pada pilihanraya tahun 1999, PAS memenangi 27 kerusi Parlimen dan 98 kerusi DUN.
Dengan kedudukan tersebut, Ustaz Fadzil Noor telah dipilih sebagai Ketua Pembangkang di Parlimen. Beliau merupakan pemimpin kedua daripada PAS yang memegang peranan tersebut.

Sejak peranan ketua pembangkang diwujudkan di Parlimen oleh Perdana Menteri, Tun Abdul Razak pada tahun 1972, Dato’ Mohd Asri adalah orang pertama daripada PAS yang menjadi Ketua Pembangkang.

Di peringkat politik dalam negeri, Ustaz Fadzil Noor telah berjaya mewujudkan beberapa pakatan politik atau tahaluf siyasi. Antaranya CCC, Angkatan Perpaduan Ummah dan Barisan Alternatif.

Beliau juga telah berjaya mewujudkan pakatan politik yang bertujuan khusus menentang kezaliman ISA melalui penubuhan GERAK dan GMI, Gerakan Mansuhkan ISA.
Di peringkat serantau beliau memainkan peranan untuk mewujudkan permuafakatan di kalangan kumpulan-kumpulan Islam di Indonesia.

Selepas tercetusnya Reformasi Indonesia dan jatuhnya Presiden Suharto, maka telah muncal banyak parti-parti yang berteraskan Islam di Negara tersebut.
Ustaz Fadzil Noor mengambil inisiatif dan langkah diplomasi bertemu pemimpin parti-parti tersebut dan mengsyorkan agar mereka tidak membentuk terlalu banyak parti berteraskan Islam di sana.

Ustaz Fadzil Noor juga telah berjaya menempatkan PAS sebarisan dengan gerakan-gerakan Islam dan parti-parti politik Islam di peringkat antarabangsa.
Ustaz Fadzil Noor menegaskan:

”PAS sebagai sebuah jamaah Muslimin dan wadah kepada perjuangan umat, adalah satu daripada mata rantai Gerakan Islam seluruh dunia. Ia bersama-sama dengan Ikhwan Muslimin di Mesir, Jamaati Islami di benua kecil India, Refah Party di Turki, FIS di Algeria, HAMAS di Palestin dan lain-lain harakah Islam di seluruh dunia, mendukung perjuangan Islam dan bangun bersama Islam serta merealisasikan corak hidup Islam”

Di peringkat politik antarabangsa juga, Ustaz Fadzil Noor tegas dan lantang menentang kerakusan dan dasar-dasar kejam kuasa Amerika dan Barat.

Dalam isu Palestin, Israel, Chechnya, Afghanistan
dan Iraq, PAS di bawah teraju Ustaz Fadzil Noor mengambil pendirian yang cukup lantang dan jelas.

Tidak sedikit pemimpin dan ahli-ahli PAS semasa menyatakan pendirian dalam isu-isu antarabangsa melalui ceramah dan demonstrasi aman yang telah ditangkap dan dimasukkan ke dalam lokap.

Pendiriannya yang jelas dan tegas terhadap isu-isu antarabangsa yang melibatkan umat Islam telah menyuntik semangat juang yang tinggi di kalangan ahli-ahli dan penyokong-penyokong PAS.

Dalam masa yang sama Ustaz Fadzil Noor juga amat teliti dengan isu-isu tempatan. Sebagai contoh, beliau amat cermat menangani isu hak istimewa orang Melayu di negara ini.

Mengambil hujah daripada tindakan Khalifah Umar bin Al-Khattab semasa pemerintahannya, Ustaz Fadzil Noor menegaskan terdapat hak istimewa seumpama ini demi menjaga kepentingan penduduk asal tempatan khususnya yang tidak berada.
Demikian juga ketika berlaku kes Mohamad Sabu menjelang pilihanraya 1995. Setelah mengadakan mesyuarat yang teliti, Ustaz Fadzil Noor mencadangkan satu tindakan disiplin diambil.

Mohamad Sabu diminta meletakkan jawatan daripada parti dan keputusan ini diterima baik oleh Mohamad Sabu.

Langkah ini dilakukan demi mengekalkan kewibawaan PAS dan mengelakkan tohmahan terhadapnya.

Selepas kes itu selesai dan mahkamah mendapati Mohamad Sabu tidak bersalah, maka ternyata langkah yang diambil oleh Ustaz Fadzil Noor telah menguntungkan PAS dan perjuangan Islam.

Ustaz Fadzil Noor juga meneruskan tradisi muslimat PAS diberikan amanah untuk menjadi calon dalam pilihanraya. Penampilan muslimat dari pelbagai lapisan latar belakang dan kerjaya telah melonjakkan imej PAS sepanjang PAS diterajui oleh Ustaz Fadzil Noor.

Ustaz Fadzil Noor juga amat berjaya di bidang dakwah dan pendidikan. Selaku Pesuruhjaya PAS Kedah pada tahun 1985 beliau telah membeli sebuah estet kecil seluas 35 ekar untuk dijadikan sebuah institusi pengajian tinggi Islam.

Institusi ini dinamakan Muassasah Darul Ulum, Pokok Sena, Kedah.

Pada masa yang sama Muassasah Darul Ulum, Pokok Sena yang didirikan oleh Ustaz Fadzil Noor adalah setanding kehebatannya pada zaman kegemilangan Maahad Al-Ehya Al-Sharif yang diasaskan oleh Ustaz Abu Bakar Al-Baqir.

Muassasah Darul Ulum menampilkan pelbagai kemelut pergeresan di antara PAS dengan UMNO, kerajaan Pusat dan kerajaan Negeri Kedah.

Beberapa orang pemimpin Pemuda PAS ditahan di bawah ISA dalam ketegangan isu Muassasah Darul Ulum. Bahkan, Ustaz Fadzil Noor sendiri ditahan polis ketika berceramah di Jerlun mengenai isu Muassasah.

Kembali ke Rahmatullah

Ustaz Fadzil Noor kembali ke rahmatullah pada pagi 23 Jun 2002 setelah dua minggu mengalami koma selepas pembedahan yang dijalaninya.

Dengan arahan kerajaan Pusat, jenazahnya diterbangkan dengan pesawat Tentera Udara DiRaja Malaysia ke Kedah.

Jenazah dibawa ke Muassasah Darul Ulum, institusi ilmu yang diasas dan diperjuangkannya.

Pada hari beliau dikebumikan pada malam 23 Jun 2002, hampir setengah juta orang berkumpul di situ.

Dari Alor Setar hingga ke kawasan itu, hampir 30km orang ramai penuh sesak di sepanjang jalan menunggu jenazahnya lalu.
Malah pada ketika terakhir jenazah hendak dikebumikan, tiada lagi kenderaan dapat bergerak sepanjang hampir 10km menuju ke Muassasah Darul Ulum.

Tidak kurang 50,000 orang menunaikan solat jenazahnya pada malam itu. Ia dikira satu rekod terbesar dalam sejarah umat Islam di negara ini.

Bhg 3: Dato’ Fadzil Noor(1937 – 2002)

Bhg 3: Dato’ Fadzil Noor(1937 – 2002)
Dilulus Oleh:jhadid06| Tuesday, October 10 @ 03:08:45 MYT


Saari Sungib | abuurwah@gmail.com |

Tahaluf Siyasi dan Reformasi

Ustaz Fadzil Noor meneruskan tradisi perjuangan mengekalkan perpaduan demi menjaga kemaslahatan Islam dan negara yang telah diasaskan oleh pemimpin-pemimpin awal PAS.




Usaha Dr. Burhanuddin Helmy mewujudkan pakatan dengan lebih 80 buah parti dan pertubuhan Melayu bagi mewujudkan PUTERA atau Pusat Tenaga Rakyat adalah satu contoh yang gilang gemilang.

PUTERA dipengerusikan oleh Ishak Haji Muhammad (Pak Sako) dengan Dr. Burhanuddin Al-Helmy sebagai penggerak utama di belakangnya.
Melalui PUTERA, Dr. Burhanuddin Al-Helmy mewujudkan pula pakatan politik dengan Tan Cheng Lok yang menerajui AMCJA.

Kemuncak perjuangan PUTERA-AMCJA yang dipengerusikan oleh Dr. Burhanuddin Al-Helmy adalah hartal atau boleh dikatakan pada hari ini sebagai
civil disobedience.
Hartal melibatkan 450,000 anggota dalam gabungan jaringan PUTERA-AMCJA.
Apabila pakatan PUTERA-AMCJA dilihat membahayakan penjajah British, maka undang-undang Darurat pun dikuatkuasakan.

Sepanjang tempoh Darurat, Dr. Burhanuddin Al-Helmy telah terhalang daripada menggerakkan sebarang pakatan politik.

Sebaliknya Tan Cheng Lok mula berjinak-jinak dengan UMNO dan akhirnya pakatannya dengan pemimpin-pemimpin UMNO membolehkan MCA ditubuhkan.

Pada tahun 1959, Dr. Burhanuddin Al-Helmy juga telah mengadakan pakatan politik dengan pengasas UMNO sendiri iaitu Dato’ Onn Jaafar yang telah meninggalkan parti itu.
PAS telah memberi kerusi kepada Dato’ Onn untuk bertanding sebagai calon Parti Negara di Terengganu dan beliau menang.

Dr. Burhanuddin Al-Helmy juga telah mengadakan pakatan politik dengan bekas ahli-ahli UMNO dalam pilihanraya 1959, di antaranya dengan Khatijah Sidek.
Khatijah Sidek akhirnya menyertai PAS dan bertanding di atas tiket PAS dan memenangi kerusi Parlimen Dungun dalam pilihanraya tersebut.

Demikian juga dengan Prof Zulkifli Muhammad di mana beliau merupakan pemimpin PAS pertama yang mencadangkan agar PAS menerima kaum Cina dan orang bukan Islam sebagai ahli bersekutu PAS.

Ketika menggerakkan pakatan CCC, Ustaz Fadzil Noor telah meminta pasukan penyelidikan PAS mengkaji semula pandangan atau mana-mana penulisan Prof Zulkifli Muhammad berkenaan isu penyertaan kaum bukan Islam dalam PAS.

Walaupun timbul beberapa krisis dalaman PAS dengan kemasukan PAS dalam kerajaan campuran dan Barisan Nasional pada zaman kepimpinan Dato’ Mohd Asri, Ustaz Fadzil Noor tetap berpendirian bahawa ianya adalah satu langkah bagi mewujudkan pakatan politik yang menjadi amalan politik PAS.

Berbekalkan tradisi tahaluf siyasi seperti inilah yang mendorong Ustaz Fadzil Noor mewujudkan pakatan dengan Semangat 46 pimpinan Tengku Razaleigh dalam Angkatan Perpaduan Ummah.

Hasil daripada tahaluf siyasi ini, PAS berjaya memerintah Kelantan.
Demikian juga apabila berlakunya Reformasi berikutan pemecatan Anwar Ibrahim. Tradisi yang diwarisi daripada pemimpin-pemimpin terdahulu dan pengalamannya sendiri, menjadikan Ustaz Fadzil Noor mengorak langkah bagi mewujudkan tahaluf siayasi dengan penyokong-penyokong Anwar Ibrahim.

Bermula dengan GERAK, seterusnya Ustaz Fadzil Noor merintis penubuhan Barisan Alternatif yang merupakan satu tahaluf siyasi ke arah pembentukan Malaysia Baru.
Langkah tersebut telah membawa hasil yang begitu besar kepada PAS dan perjuangan Islam pada pilihanraya 1999.

PAS mengekalkan kuasa di Kelantan dan berjaya mewujudkan kerajaan di Terengganu.
Pendekatan tahaluf siyasi yang diterajui oleh Ustaz Fadzil Noor juga bersumber daripada warisan kepimpinan terbuka dan sederhana Tuan Guru Yusof Rawa.

Di bawah teraju kepimpinannya, Tuan Guru Yusof Rawa telah membuka ruang bagi pemimpin-pemimpin pelapis PAS untuk mewujudkan pakatan-pakatan politik yang boleh memenangkan dakwah dan politik Islam.

Kerjasama dan pakatan dengan pertubuhan dan aktivis kaum Cina hingga tertubuhnya CCC adalah satu dayacipta keterbukaan dan kesederhanaan kepimpinan Tuan Guru Yusof Rawa.
Ustaz Fadzil Noor juga sering mengingatkan pemimpin dan ahli-ahli PAS bahawa PAS adalah berakarumbi daripada perjuangan Hizbul Muslimin di Gunung Semanggol.

Tatkala menyebut Hizbul Muslimin, sekali gus Ustaz Fadzil Noor mengingatkan pemimpin dan ahli-ahli PAS bahawa tradisi kepimpinan ulama’ sebenarnya bersumber daripada perjuangan dan pengorbanan para ulama’ angkatan Ustaz Abu Bakar Al-Baqir.

Keberanian dan sikap terbuka Ustaz Abu Bakar Al-Baqir dalam merintis pelbagai tahaluf siyasi seperti PEPERMAS, MATA, LEPIR dan seumpamanya menjadi iktibar bagi perjuangan PAS yang diterajui oleh Ustaz Fadzil Noor.

Jika ada kesinambungan dan kesepaduan di antara perjuangan yang dirintis oleh Ustaz Abu Bakar Al-Baqir, Dr. Burhanuddin Al-Helmy, Prof Zulkifli Muhammad dan Tuan Guru Yusof Rawa, maka Ustaz Fadzil Noor menterjemahkannya dalam realiti politik pada masanya.

Demikian juga, jika usaha Dr. Burhanuddin Al-Helmy berjaya menggabungkan lebih 80 buah parti dan persatuan Melayu dalam PUTERA untuk menuntut kemerdekaan daripada penjajah, Ustaz Fadzil Noor pula telah berjaya mewujudkan gabungan lebih 80 buah parti politik dan NGO melalui GMI untuk mendesak kerajaan memansuhkan undang-undang warisan penjajah, ISA!

Di bawah kepimpinan Ustaz Fadzil Noor, PAS terus bergerak menjadikan tahaluf siyasi sebagai satu amalan utama dalam pergerakan siyasahnya.

Menentang Kezaliman ISA

Kezaliman ISA adalah suatu yang tidak asing lagi bagi Ustaz Fadzil Noor.
Ini kerana semasa beliau menjadi Timbalan Presiden ABIM, beliau terpaksa memangku jawatan Presiden ABIM apabila Anwar Ibrahim ditahan di bawah ISA selama dua puluh bulan bermula dari tahun 1974.

Sekali lagi setelah Anwar Ibrahim ditahan dan dibelasah oleh Ketua Polis Negara pada malam 20 September 1998, keesokan harinya rakan lamanya itu diumumkan telah ditahan di bawah ISA.

Ustaz Fadzil Noor memahami benar bahawa ISA adalah senjata politik pemerintah.
ISA digunakan untuk melindungi kepentingan politik pemerintah. ISA juga digunakan untuk menutup jenayah pemerintah.

Meneruskan dasar PAS terhadap ISA daripada kepimpinan Tuan Guru Yusof Rawa, Ustaz Fadzil Noor terus melonjakkan PAS dalam sikap dan pendiriannya terhadap kezaliman ISA.

Ustaz Fadzil Noor mempengerusikan mesyuarat menentang ISA ekoran penahanan Anwar Ibrahim dan beberapa penyokongnya bermula dari 20 September 1998.
Mesyuarat itu diadakan di Markaz Tarbiah PAS, Taman Melewar dan dihadiri oleh wakil-wakil daripada PAS, PRM, DAP dan NGO daripada PUM, ABIM, JIM, SUARAM dan lain-lain.
Mesyuarat yang diadakan pada 25 September itu memutuskan untuk mendesak kerajaan membebaskan segera semua tahanan ISA dan memansuhkan ISA.
Mesyuarat bersetuju sebulat suara untuk menubuhkan Majlis Gerakan Keadilan Rakyat Malaysia atau GERAK.

Di bawah kepimpinan Ustaz Fadzil Noor, GERAK dilancarkan pada 27 September 1998 di Markaz Tarbiah, Taman Melewar.

Puluhan ribu rakyat dan ratusan wartawan dari dalam dan luar negara hadir ke majlis pelancaran tersebut.

Dalam Ucapan Dasar di Muktamar PAS ke-45 pada Mei 1999, Ustaz Fadzil Noor menegaskan:

”Kejayaan PAS menggabungkan parti politik dan NGO dalam satu gerakan yang disebut Majlis Gerakan Keadilan Rakyat Malaysia atau GERAK, cukup untuk membuktikan keupayaan kepimpinan PAS menerajui kebangkitan rakyat di negara ini”

Ustaz Fadzil Noor berulang kali menegaskan, sama ada dalam ceramah mahupun dalam perbahasan di Parlimen, bahawa ISA bersama-sama undang-undang zalim yang lain seperti OSA, Akta Polis dan Akta Cetak adalah undang-undang yang mencabul hak asasi rakyat di negara ini.

Bhg 2: Dato’ Fadzil Noor(1937 – 2002)

Bhg 2: Dato’ Fadzil Noor(1937 – 2002)
Dilulus Oleh:jhadid06| Monday, October 09 @ 23:07:51 MYT


Drp 4 Bhg.
Saari Sungib |abuurwah@gmail.com|


Menangani Fatwa Syuhada’ Memali

Semasa tercetusnya tragedi Memali, tugas menangani kes tersebut telah diserahkan oleh Tuan Guru Yusof Rawa kepada Ustaz Fadzil Noor. Beliau pada masa itu adalah Pesuruhjaya PAS Negeri Kedah.

Persoalan paling utama kepada Ustaz Fadzil Noor pada masa itu adalah bagaimana jenazah hendak diurus? Adakah mereka syuhada’?. Sekiranya mereka mati syahid, jenazah mereka tidak perlu dimandi, dikapan dan disolat-jenazahkan.

Ustaz Fadzil Noor terus menemui Tuan Guru Haji Omar, seorang alim yang sangat disegani di Baling. Menurut Tuan Guru Haji Omar, Ustaz Ibrahim Libya dan rakan-rakannya sah mati syahid.

Ustaz Fadzil Noor merujuk lagi kepada Tuan Guru Haji Yahya Joned, ahli Majlis Fatwa Negeri Kedah dan menantunya Ustaz Azahari Abdul Razak, ahli Majlis Agama Islam Negeri Kedah. Kedua mereka adalah pimpinan ulama’ PAS Kedah.

Mereka berdua menyokong pendapat Tuan Guru Haji Omar.

Ustaz Fadzil Noor seterusnya cuba mendapatkan pengesahan daripada Majlis Fatwa Negeri Kedah tetapi dalam waktu yang suntuk Majlis Fatwa tidak dapat mengadakan mesyuarat.

Dengan itu jenazah Ustaz Ibrahim Libya dan 13 orang rakan-rakannya dikebumikan sebagai para syuhada’.

Dua minggu kemudian Jawatankuasa Fatwa Majlis Agama Islam Kedah mengatakan mereka tidak mati syahid dan dianggap sebagai syibghul bughah.

Seterusnya Majlis Fatwa Kebangsaan pula mengeluarkan fatwa bahawa Ustaz Ibrahim Libya dan rakan-rakannya sebagai bughah, atau penderhaka.

Ustaz Fadzil Noor mengatakan jika pihak kerajaan menganggap mereka tidak syahid, kerajaan mesti bertindak menggali kubur, memandi, mengkafan dan menyembahyang-jenazahkan mereka!

Untuk meredakan keadaan, Sultan Kedah telah perkenan menziarahi pusara Ustaz Ibrahim Libya dan rakan-rakannya.

Berikutan itu Ustaz Fadzil Noor mengulas:

”Mana ada raja perkenan menziarah kubur orang derhaka? Macam Hang Jebat yang dianggap derhaka kepada Raja Melaka, tidak pernah ada raja-raja dari dulu hingga sekarang ziarah kubur Hang Jebat”

Tindakan terhadap Ibrahim Libya adalah untuk mengelakkan pengaruhnya dan pengaruh PAS berkembang agar UMNO tidak tergugat di Baling.

Tetapi tanpa Ibrahim Libya pun, akhirnya Baling jatuh ke tangan PAS pada pilihanraya 1999.

Dalam debat Parlimen, isu Memali dibangkitkan oleh UMNO. Pihak yang mengatakan Ustaz Ibrahim Libya dan rakan-rakannya tidak syahid mencabar supaya Ustaz Fadzil Noor menggali pusara syuhada itu, sama ada hancur atau tidak jenazah mereka.

Ustaz Fadzil Noor lantas menjawab:

”Kami percaya mereka syahid, kami tidak perlu menggali kuburnya. Yang Berhormat yang tidak percayalah yang patut menggalinya untuk melihat badan mereka hancur atau masih segar”

Memantapkan Konsep Kepimpinan Ulama’

Kepimpinan Ulama’ diasaskan semasa kepimpinan Tuan Guru Yusof Rawa sebagai Yang Dipertua dengan Ustaz Fadzil Noor sebagai timbalannya.

Di bawah kepimpinannya, Ustaz Fadzil Noor menekankan agar golongan ulama’ hendaklah sentiasa berusaha untuk melayakkan diri menjadi pemimpin dan PAS memberikan perhatian supaya institusi ulama’ mesti disokong dan didaulatkan.

Ustaz Fadzil Noor berpandangan bahawa kepimpinan PAS akan lebih terbuka dan lebih banyak dipikul oleh golongan intelektual masa depan, namun konsep kepimpinan ulama’ akan terus menjadi teras.

Dengan itu Ustaz Fadzil Noor tetap menekankan perihal pentingnya penghayatan kepimpinan ulama’.

Sejak kepimpinan ulama’ diketengahkan, PAS berjaya menawan dua buah negeri iaitu Kelantan dan Terengganu.

Kedua-dua negeri ini telah memberikan penghormatan kepada ulama’ untuk menjadi Menteri Besar.

Kehadiran Ustaz Fadzil Noor dan Ustaz Abdul Hadi Awang ke Parlimen juga merupakan satu penampilan tokoh ulama’ yang berwibawa dan amat dikagumi.

Kempen Menambah 500,000 Ahli

Setelah menjadi Presiden, Ustaz Fadzil Noor menyedari bahawa walaupun setelah 40 tahun usia PAS, jumlah keahliannya baru mencecah 300,000 orang.

Pada tahun 1990, beliau melancarkan kempen menambahkan keahlian PAS kepada 500,000 orang dalam tempoh lima tahun.
Sasaran ini adalah sebelum pilihanraya tahun 1995.

Dalam satu Ucapan Dasarnya, Ustaz Fadzil Noor menyarankan supaya pemimpin-pemimpin di semua peringkat hendaklah memastikan agar ada cawangan PAS di setiap kampung, di setiap taman perumahan dan di setiap lorong.
Ustaz Fadzil Noor menegaskan hendaklah ada sekurang-kurangnya seorang ahli PAS dalam setiap rumah.

Ustaz Fadzil Noor membuktikan arahannya itu dilaksanakan di kawasannya sendiri di DUN Bukit Raya. Di Bukit Raya, cawangan-cawangan PAS jauh melebihi cawangan-cawangan UMNO.

Pada Jun 1995, keanggotaan PAS telah mencecah 400,000.

Walaupun jumlah tersebut tidak memenuhi sasarannya, namun purata penambahan 2,000 orang ahli sebulan telah dapat dicapai.

Ledakan pertambahan ahli ini walau bagaimanapun berlaku setelah tercetusnya Reformasi ekoran pemecatan Anwar Ibrahim.

Purata penambahan ahli PAS untuk beberapa bulan berikutnya adalah antara 10,000 hingga 15,000 orang sebulan.

Pelaksanaan Hudud

Enakmen Syariah II Kelantan yang termasuk di dalamnya hukum hudud telah dikemukakan oleh Kerajaan PAS Kelantan semasa kepimpinan Ustaz Fadzil Noor.
Ustaz Fadzil Noor menjelaskan bahawa PAS telah mengumumkan hasratnya untuk melaksanakan syariat Islam termasuk hudud sejak ia ditubuhkan pada tahun 1951.
Para pemimpin PAS sejak itu tidak pernah berselindung mengenai cita-cita tersebut.
Hasrat ini telah disebut dalam ceramah dan manifesto-manifesto pilihanraya PAS.
Ustaz Fadzil Noor menjelaskan bahawa PAS dalam melaksanakan syariat Islam tidak pernah bersikap terburu-buru.

Contohnya, kerajaan Kelantan telah mengambilkira pandangan awal Perdana Menteri yang pernah membuat kenyatan bahawa beliau bersedia memberi laluan kepada Kelantan untuk melaksanakan hudud.

Kerajaan Kelantan juga mengambil kenyataan bekas Timbalan Perdana Menteri yang menyebut kononnya UMNO tidak menentang hudud.

Pandangan parti-parti bukan Melayu juga diberi perhatian.

Ketua Dewan Ulama’ sebagai sifatnya Menteri Besar Kelantan telah membuka pintu pejabatnya untuk berdialog dengan ketua-ketua agama dan politik serta pemimpin-pemimpin masyarakat.

Ustaz Fadzil Noor menegaskan bahawa kerajaan Kelantan telah mencatat sejarah apabila rang enakmen itu dibenarkan untuk dibahas dalam seminar terbuka oleh pelbagai pihak sebelum dibentangkan dalam Dewan Undangan Negeri Kelantan.

Tetapi malangnya UMNO tidak kelihatan.

Ustaz Fadzil Noor telah membidas perbuatan mereka dengan mengatakan bahawa Barisan Nasional yang mendakwa sebagai juara demokrasi sebenarnya belum berani untuk menghadapi rakyat seperti yang dilakukan oleh kerajaan Kelantan.

Ustaz Fadzil Noor turut menyelar tindakan UMNO menolak enakmen tersebut serta pakatan mereka untuk menggagalkan pelaksanaan syariat Islam di negeri Kelantan.

Bhg 1: Dato’ Fadzil Noor(1937 – 2002)

Bhg 1: Dato’ Fadzil Noor(1937 – 2002)
Dilulus Oleh:jhadid06| Monday, October 09 @ 23:02:26 MYT


Latar Belakang

Fadzil@Ali bin Mohd Noor dilahirkan pada 13 Mac 1937 di Kampung Seberang Pumpung, Alor Setar, Kedah.

Ayahnya Mohd Noor Abdul Hamid dan ibunya Hindun Abdul Rahman meninggal dunia sewaktu beliau masih kecil.

Moyangnya Tuan Guru Hj Idris yang lebih dikenali sebagai Tuan Syeikh Idris Al-Jarumi adalah seorang ulama’ terkenal di Kedah yang berasal dari Patani.
Ustaz Fadzil Noor mendapat pendidikan awal di Sekolah Melayu Derga (1946-1949).
Beliau melanjutkan pelajaran ke peringkat menengah di Maktab Mahmud Alor Setar (1949-1958) dan peringkat tinggi (1958-1962).

Setelah tamat pengajiannya di Maktab Mahmud, Ustaz Fadzil Noor menjadi guru di Sekolah Menengah Badlishah, Kulim, Kedah. Kemudian beliau bertugas sebagai pegawai di Jabatan Zakat Negeri Kedah.

Pada tahun 1962, Ustaz Fadzil Noor melanjutkan pelajaran ke Universiti Al-Azhar Mesir. Pada tahun 1967 beliau berjaya menamatkan pelajaran dan memperoleh Ijazah Sarjana Muda Syariah.

Sekembalinya dari Mesir, Ustaz Fadzil Noor menjadi tenaga pengajar di Maktab Mahmud (1967-1973) dan pada tahun 1973 menerima tawaran sebagai pensyarah di Universiti Teknologi Malaysia, Kuala Lumpur.

Penglibatan Awal
Bakat kepimpinan Ustaz Fadzil Noor terserlah bila beliau bergerak cergas dalam persatuan pelajar dan terkenal sebagai pemidato yang pintar dan dihormati di Maktab Mahmud.

Ketika di Mesir Ustaz Fadzil Noor memimpin Kesatuan Melayu Republik Arab Mesir (PMRAM) sebagai ketua penerangan, setiausaha dan akhirnya sebagai timbalan presiden.
Ustaz Fadzil Noor pernah menjadi setiausaha Persatuan Ulama Malaysia (1974-1976), Setiausaha Penerangan ABIM (1973-1974) dan Timbalan Presiden ABIM (1974-1978).
Ustaz Fadzil Noor juga pernah menjadi setiausaha Pertubuhan Kebajikan Islam Malaysia (PERKIM) cawangan Kedah.

Semasa memimpin ABIM, Ustaz Fadzil Noor turut terlibat dalam demonstrasi membela rakyat miskin di Baling, Kedah pada tahun 1974.

Ketika Anwar Ibrahim ditahan di bawah ISA di Kamunting dari tahun 1974 hingga 1976, Ustaz Fadzil Noor menjadi Pemangku Presiden ABIM.

Penglibatan dalam PAS

Ustaz Fadzil Noor mula terlibat dengan PAS pada tahun 1959 ketika masih menuntut di Maktab Mahmud. Beliau membantu calon-calon PAS dalam pilihanraya tahun tersebut.
Ustaz Fadzil Noor juga dalam kempen tersebut sering mengikuti ceramah-ceramah Dr. Burhanuddin Al-Helmy dan Prof. Zulkifli Muhammad.
Ustaz Fadzil Noor seterusnya dilantik menjadi YDP PAS Kawasan Kuala Kedah dan Ahli Perhubungan Negeri PAS Kedah.

Jawatan tertinggi yang disandang oleh Ustaz Fadzil Noor adalah:
• Naib Yang Dipertua (1979-1983)

• Timbalan Yang Dipertua (1983-1989)

• Presiden PAS (1989-2002)

Ustaz Fadzil Noor mula menjadi Yang Dipertua pada 31 Mac 1989. Nama jawatan Yang Dipertua PAS ditukar menjadi Presiden PAS pada masa beliau.

Ditahan Polis

Dalam perjuangan menegakkan kebenaran, Ustaz Fadzil Noor pernah ditahan dua kali oleh pihak polis.

Pada penghujung tahun 1970an, ketika sedang berucap dalam majlis ceramah di Kg Seberang Takir, Terengganu, tiba-tiba pihak polis mengumumkan bahawa ceramah tersebut adalah perhimpunan haram.

Turut hadir dalam ceramah itu adalah Ustaz Abdul Hadi Awang, Mustafa Ali dan Ustaz Fadhullah Shuaib.

Tanpa menghiraukan amaran tersebut, Ustaz Fadzil Noor meneruskan ceramahnya dengan memberi peringatan kepada pihak polis tentang sebuah hadith Nabi s.a.w.
Sepasukan polis terus menyerbu dan menahan Ustaz Fadzil Noor beserta para penceramah lain.

Mereka terus dibawa ke balai di bandar Kuala Terengganu malam itu juga. Bermalamlah Ustaz Fadzil Noor di lokap pada malam itu.
Lewat malam itu juga Pemuda PAS memobilisasi sokongan dan menjelang subuh kira-kira 15,000 orang ahli dan penyokong PAS telah berkumpul di luar kawasan balai polis Kuala Terengganu.

Mereka mendesak pemimpin-pemimpin mereka dibebaskan segera.
Perundingan antara beberapa orang wakil PAS dengan pihak polis diadakan. Hasilnya, Ustaz Fadzil Noor dan pemimpin-pemimpin yang ditahan dalam lokap tersebut dibebaskan tanpa sebarang tindakan.

Sekali lagi Ustaz Fadzil Noor ditahan oleh pihak polis adalah dalam ceramah di Jerlun, Kedah. Peristiwa ini berlaku ketika kes Muassasah Darul Ulum menjadi isu panas di antara PAS dengan UMNO di Kedah.

Ustaz Fadzil Noor ditahan semasa berceramah. Beliau ditahan bersama Hj. Shaari, YDP PAS Kawasan Jerlun dan dikenakan ikat jamin. Kesnya terus dibawa ke mahkamah.
Walau bagaimanapun kes ini digugurkan berikutan kematian Hj. Shaari.

Orang Kanan Tuan Guru Yusof Rawa

Dalam perjuangan bersama-sama PAS, terutamanya sejak era peralihan kepimpinan, Ustaz Fadzil Noor sentiasa berseiringan jalan dengan Tuan Guru Yusof Rawa.
Selepas pilihanraya tahun 1978 lagi, ketika Tuan Guru Yusof Rawa menjadi Naib Yang Dipertua pertama, Ustaz Fadzil Noor menjadi Naib Yang Dipertua kedua.
Semasa Tuan Guru Yusof Rawa berjaya memenangi jawatan Timbalan yang Dipertua parti dalam tahun 1981, Ustaz Fadzil Noor pula menduduki jawatan Naib Yang Dipertua pertama.

Apabila Majlis Syura Ulama’ diwujudkan melalui pindaan Perlembagaan PAS, Ustaz Fadzil Noor bersama-sama Tuan Guru Yusof Rawa mewakili Jawatankuasa PAS Pusat untuk duduk dalam Majlis Syura Ulama’.

Ketika Tuan Guru Yusof Rawa dipilih menjadi Mursyidul Am yang pertama, bebanan tugas Yang Dipertua telah dilaksanakan sebahagiannya oleh Ustaz Fadzil Noor.
Demikian juga semasa Tuan Guru Yusof Rawa uzur menjelang saat-saat akhir beliau memegang jawatan Yang Dipertua, maka Ustaz Fadzil Noor merupakan orang yang menjalankan tugas-tugas teraju utama parti.

Ustaz Fadzil Noor merupakan orang yang paling kehadapan membantu Tuan Guru Yusof Rawa semasa PAS berhadapan dengan krisis peralihan kepimpinan dan tragedi Memali.
Ustaz Fadzil Noor juga menjadi pembantu utama semasa Tuan Guru Yusof Rawa merintas konsep kepimpinan ulama’ dan mengukuhkan asas-asas harakah Islamiyyah dalam PAS.
Ustaz Fadzil Noor adalah orang kanan Tuan Guru Yusof Rawa sepanjang perjuangan mereka bersama-sama dalam PAS.

Bhg 2:Tuan Guru Yusof Rawa(1922 – 2000)

Bhg 2:Tuan Guru Yusof Rawa(1922 – 2000)
Dilulus Oleh:jhadid06| Monday, October 09 @ 22:50:59 MYT


Saari Sungib |abuurwah@gmail.com|


Pindaan Perlembagaan 1983

Setelah memantapkan PAS di segi dalaman, Tuan Guru Yusof Rawa berusaha meletakkan semula PAS sebagai sebuah parti politik Islam yang berwibawa di negara ini.




Peluang tersebut muncul apabila Dr. Mahathir Mohamad mengambil langkah untuk menyekat kuasa raja-raja Melayu melalui pindaan Perlembagaan Persekutuan pada tahun 1983.

Tuan Guru Yusof Rawa menerajui PAS membantah langkah Dr. Mahathir.
PAS mengambil sikap mempertahankan hak raja-raja Melayu dan menyekat pembolotan kuasa kerajaan yang cuba dilakukan oleh Dr. Mahathir.
Tindakan ini sekali gus berjaya menampilkan PAS sebagai juara umat Islam dan bangsa Melayu.

Walaupun langkah ini diambil oleh Tuan Guru Yusof Rawa, dasar PAS tetap selaras dengan Islam. Ini kerana sepanjang sesi 1984-85, PAS di bawah pimpinan Tuan Guru Yusof Rawa sering berbicara mewakili golongan mustadafin dan menentang golongan mustakbirin.

Dalam tempoh tersebut, PAS memperkenalkan secara terbuka perjuangan menegakkan keadilan dan menentang kefasadan.

Seterusnya pada tahun 1985, di bawah teraju Tuan Guru Yusof Rawa, PAS meningkatkan kempen menentang segala bentuk asabiyyah, terutama asabiyyah UMNO dan Barisan Nasional.

Kebijaksanaan Tuan Guru Yusof Rawa merebut peluang daripada langkah Dr. Mahathir untuk menyekat hak raja-raja Melayu telah memberi ruang yang seluasnya bagi beliau menempatkan PAS kembali sebagai sebuah parti politik dan gerakan Islam yang relevan dan berwibawa di negara ini.

Tragedi Memali

Tragedi Memali yang tercetus pada 18 November 1985, berlaku semasa PAS diterajui oleh Tuan Guru Yusof Rawa.

Tragedi ini merupakan pembunuhan kejam Ustaz Ibrahim Libya dan tigabelas muridnya akibat serangan kira-kira 4,000 anggota polis.

Empat anggota polis turut terkorban.

Tragedi Memali bermotifkan politik.

Peristiwa ini berlaku apabila sokongan orang Melayu yang semakin meningkat terhadap PAS lantaran penerimaan mereka terhadap kewibawaan PAS dan kepimpinan ulama’.
Tragedi Memali didahului sebelum itu dengan beberapa operasi penahanan ISA terhadap tokoh-tokoh Pemuda PAS.

Tuan Guru Yusof Rawa dengan tenang menangani tragedi di Memali. Tugas ini diserahkannya dengan penuh bijaksana kepada timbalannya, Ustaz Fadzil Noor, yang juga pada masa itu adalah Pesuruhjaya PAS Negeri Kedah.

Di bawah kepimpinan Tuan Guru Yusof Rawa, PAS menegaskan bahawa Ustaz Ibrahim Libya dan rakan-rakannya gugur sebagai syuhada’.

Pendirian ini dipertahankan oleh Tuan Guru Yusof Rawa walaupun Jawatankuasa Fatwa Majlis Agama Islam Kedah mengatakan mereka tidak mati syahid dan dianggap sebagai syibghul bughah.

Apabila Majlis Fatwa Kebangsaan mengeluarkan fatwa bahawa Ustaz Ibrahim Libya dan rakan-rakannya sebagai bughah, atau penderhaka, Tuan Guru Yusof Rawa tetap cekal mempertahankan pendirian PAS bahawa mereka semua adalah mati syahid.

Menentang Kezaliman ISA

Semasa PAS diterajui oleh Tuan Guru Yusof Rawa, pemimpin-pemimpin PAS terutama tokoh-tokoh Pemuda sering berhadapan dengan tangkapan di bawah ISA.
Semasa Dato’ Mohd Asri Muda menerajui PAS, pendirian PAS terhadap ISA adalah seperti yang diungkapkan sendiri olehnya sebagai:

”PAS merasakan betapa perlunya undang-undang itu bagi sebuah negara merdeka yang masih muda seperti Persekutuan Tanah Melayu demi menjaga keamanan negara dan mengawasi serta mencegah gerakan subversif, apatah lagi gerakan komunis yang amat memerlukan pengawasan dan prihatin daripada seluruh rakyat yang cintakan keamanan.
Sikap ini menjadi bukti kerana sekalipun PAS berada di pihak pembangkang, PAS tidaklah mengambil sikap menentang secara melulu, mentang-mentang menjadi golongan pembangkang, maka semua yang datang daripada kerajaan ditentang”

Berlainan dari zaman Dato’ Mohd Asri Muda, di bawah teraju Tuan Guru Yusof Rawa, PAS mengambil sikap dan pendirian yang berbeza terhadap ISA.

Perubahan ini ketara dalam Ucapan Dasar Tuan Guru Yusof Rawa pada tahun 1985. Di mana katanya:

”Undang-undang Keselamatan Dalam Negeri yang diluluskan oleh Parlimen dan pindaan-pindaan yang telah dibuat ke atasnya lebih kejam lagi. Undang-undang ini tidak terikat kepada mana-mana prinsip sekalipun, kecuali kepada keinginan Menteri Dalam Negeri. Mangsanya dihukum tanpa memerlukan apa-apa pembuktian, sama ada dari yang dituduh atau yang menuduh”

Menyentuh penahanan pemimpin-pemimpin muda PAS seperti Ustaz Abu Bakar Chik, Abdul Razak Daud, Mohamad Sabu, Ustaz Bunyamin Ya’kub dan Suhaimi Said, Tuan Guru Yusof Rawa menegaskan:

”Penahanan mereka hanyalah semata-mata di atas keinginan Menteri Dalam Negeri yang didesak berulang kali oleh wakil-wakil dalam Perhimpunan Agung UMNO
Bahaya kepada UMNO dianggap sebagai bahaya kepada keselamatan negara. Kemerosotan sokongan kepada UMNO dianggap perpecahan dan ancaman yang membahayakan orang-orang Melayu. Inilah lojik dan cara berfikir pemimpin yang mengamalkan prinsip diktator berparlimen”
”Undang-undang ini nyata sekali bertentangan dengan keadilan”

Dalam Ucapan Dasar pada tahun 1988, menyentuh tangkapan ISA terhadap sepuluh orang pemimpin muda PAS di bawah Operasi Lalang, Tuan Guru Yusof Rawa menegaskan:

”Sebenarnya tindakan ini bukan kerana keselamatan negara, tetapi adalah kerana muslihat pemimpin-pemimpin yang sudah terpisah dari orang ramai, terpisah dari perjuangan rakyat dan partinya sendiri, malah terpencil dari kliknya sendiri
ISA pada prinsipnya adalah undang-undang yang zalim kerana ia tidak memberi peluang membela diri kepada mangsanya dalam apa bentuk pun”

Dasar yang diambil oleh Tuan Guru Yusof Rawa terhadap ISA adalah jelas berdasarkan prinsip.

PAS menolak ISA kerana ia zalim!

Kejelasan pendirian dalam isu ISA inilah yang diwarisi oleh Ustaz Fadzil Noor ketika menerajui PAS.

Sumbangan kepada Gerakan Islam: Sikap Terbuka dan Sederhana

Sumbangan terbesar Tuan Guru Yusof Rawa terhadap gerakan dan perjuangan Islam di Malaysia adalah di atas tindakannya untuk mengukuhkan serta menempatkan kembali PAS dalam arus perdana politik dan dakwah di negara ini.
Kepimpinannya yang terbuka memberi ruang yang seluas-luasnya kepada tokoh dan tenaga muda pelapis dalam PAS untuk melakar dan mencorakkan peta baru perjuangan Islam di Malaysia melalui PAS.

Konsep kepimpinan ulama’ yang diterajuinya memartabatkan kedudukan gerakan Islam di atas paksi ilmu, syaksiyyah dan akhlak mulia pemimpin-pemimpin yang tinggi cita-cita perjuangan Islamnya.

Peralihan daripada sebuah gerakan yang dianggap sebagai nasionalis Islam kepada sebuah harakah Islamiyyah telah menarik minat golongan teknokrat, intelektual, para lepasan universiti tempatan dan luar negara serta pelbagai lapisan pencinta perjuangan Islam di negara ini.

Tuan Guru Yusof Rawa turut memberi ruang yang luas kepada barisan pimpinan pelapis untuk meneroka kerjasama politik dengan kaum bukan Islam.

Beliau merintis jalan ke arah penubuhan CCC atau Chinese Consultative Council.
Dalam konteks pengukuhan unsur-unsur dalaman PAS, Tuan Guru Yusof Rawa membuka ruang seluas-luasnya kepada pendekatan tarbiyyah dan harakiyyah.

Pendedahannya di luar negara serta pengetahuannya tentang perjuangan gerakan Islam seperti Ikhwan Muslimin dan gerakan-gerakan pembebasan yang lain, memberi keupayaan kepada Tuan Guru Yusof Rawa untuk mencorakkan gerakerja haraki dalam PAS.

Sikap ini telah berjaya memberi laluan kepada pendokong-pendokong Islam daripada pelbagai latar belakang untuk menyertai dan terlibat aktif dalam PAS.

Demikian juga bagi mereka yang mendokong pendekatan Revolusi Islam Iran. Sikap terbuka dan sederhana Tuan Guru Yusof Rawa telah memberi ruang bagi mereka terlibat memberi sumbangan perjuangan Islam dalam PAS.

Di bawah kepimpinannya, Tuan Guru Yusof Rawa menegaskan bahawa apa yang boleh dianuti adalah semangat revolusi di segi menentang penindasan pemerintah yang zalim, tetapi bukan di segi anutan mazhabnya.

Namun di sebalik sikap terbuka dan sederhananya, PAS di bawah teraju kepimpinan Tuan Guru Yusof Rawa tidak pernah berkompromi dengan kezaliman, penindasan dan kemungkaran.

Pendirian inilah yang menampilkan identiti PAS sebagai parti politik Islam dan sebuah harakah Islamiyyah.

Di bawah teraju Tuan Guru Yusof Rawa, ditegaskan dengan jelas bahawa kepimpinan ulama’ bukan sahaja membawa makna kepimpinan mesti diterajui oleh ulama’.

Hakikat yang lebih utama adalah kepimpinan ulama’ berkehendakkan kepada kandungan perjuangan yang berteraskan ciri-ciri tarbiyyah, dakwah, ilmu dan satu pergerakan atau harakah yang menjadikan cita-cita Islam sebagai paksinya.
Jelas, di bawah kepimpinannya, Tuan Guru Yusof Rawa telah meletakkan paksi penting perjuangan PAS selepas mengambilalih daripada Dato’ Mohd Asri Muda.

Pencapaian Sebagai Ahli Politik Islam

Kemenangan awal dalam penglibatan politik Tuan Guru Yusof Rawa ialah pada pilihanraya tahun 1969 apabila berjaya mengalahkan Dr. Mahathir Mohamad bagi kerusi Parlimen Kota Setar Selatan.

Sebelum penyertaan PAS dalam kerajaan Perikatan lagi, Tuan Guru Yusof Rawa telah diberikan kepercayaan oleh Tunku Abdul Rahman pada awal tahun 1970an untuk menganggotai delegasi negara melawat umat Islam di Taiwan.

Perlantikan ini dilakukan oleh Tunku Abdul Rahman memandangkan kemampuan Tuan Guru Yusof Rawa bertutur dalam bahasa Inggeris dan bahasa Arab.

Apabila PAS menyertai kerajaan campuran dengan Perikatan pada tahun 1973, Tuan Guru Yusof Rawa dilantik sebagai wakil Malaysia ke PBB untuk membahaskan isu-isu antarabangsa yang melibatkan Malaysia.

Tuan Guru Yusof Rawa juga pernah menjadi Konsul Kehormat Iraq di Pulau Pinang.
Beliau tinggal selama setahun di New York untuk mewakili negara di PBB.

Sekembalinya dari New York beliau menyertai pilihanraya tahun 1974 dan menang tanpa bertanding.

Sejurus selepas itu, sebagai salah seorang pemimpin kanan dalam parti, beliau dilantik menjadi Timbalan Menteri Perusahaan Utama.

Menterinya pada masa itu adalah Tan Sri Musa Hitam.

Perlantikan ini menjadikan Tuan Guru Yusof Rawa sebagai anak Melayu Pulau Pinang pertama menjawat jawatan politik setinggi itu.

Selepas itu, Tuan Guru Yusof Rawa dilantik pula sebagai Duta Besar Malaysia ke Iran. Ketika itu Shah Iran masih memerintah Iran.

Dengan tugas sebagai Duta ke Iran, Tuan Guru Yusof Rawa juga ditauliahkan ke Turki dan Afghanistan.

Semasa menjalankan tugas tersebutlah Tuan Guru Yusof Rawa belajar bahasa Farsi dan bahasa Perancis di samping mengekalkan kefasihannya dalam bahasa Inggeris dan bahasa Arab.

Apabila PAS dikeluarkan daripada Barisan Nasional pada tahun 1978, Tuan Guru Yusof Rawa kembali dari Iran pada tahun 1979 apabila tamat tempoh khidmatnya.

Tuan Guru Yusof Rawa kemudian memilih berkhidmat dengan PAS dan meninggalkan kerajaan.

Tuan Guru Yusof Rawa juga telah dianugerahkan sebagai Tokoh Maal Hijrah Pulau Pinang pada tahun 1992.

Penghormatan Terakhir

Tuan Guru Yusof Rawa menghembuskan nafas terakhir setelah solat subuh pada hari Jumaat, 28 April 2000.

Penuh sesak orang membanjiri Masjid Gelugor pada solat Jumaat dan solat jenazah untuk Tuan Guru Yusof Rawa.

Sepanjang jalan dari Gelugor ke Kampong Makam yang terletak di pinggir bandar Georgetown dipenuhi oleh orang ramai yang datang untuk memberi penghormatan terakhir.

Kaum Cina dan India juga datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Turut hadir adalah Ketua Menteri Pulau Pinang, Datuk Koh Tsu Koon.

Pada penghujung hayatnya, Tuan Guru Yusof Rawa menyaksikan penzaliman yang dilakukan terhadap Anwar Ibrahim. Beliau mendoakan agar Anwar bersabar dan tabah di atas penzaliman tersebut.

Apa yang dihadapi oleh Anwar Ibrahim itu ditegaskan oleh Tuan Guru Yusof Rawa sebagai kemuncak kezaliman Dr. Mahathir yang tidak dapat lagi membezakan antara kebinatangan dan kemanusiaan!